Gunung Prau

Gambar

 

 Selama ini wisatawan yang datang ke Dieng hanya tahu tentang komplek candi, telaga warna dan telaga lainnya, kawah, dan yang ingin menikmati indahnya sun rise hanya tahu dari tiga titik yaitu Gardu pandang tieng, bukit sikunir dan Komplek candi pandawa lima.

Dari ketiga lokasi ini sudah tidak diragukan lagi penampakan sunrise yang sangat hebat dan menimbulkan decak kagum dari para wisatawan. Bagi yang memburu doble sunrise bisa dilakukan dengan melihat dari gardu pandang Tieng untuk golden sunrise dan langsung menuju komplek candi pandawa lima untuk melihat silver sunrise, atau dari bukit sikunir dan komplek candi.

Selain dari tiga lokasi tersebut ternyata ada satu lagi lokasi yang lebih heboh untuk menikmati sunrise yaitu dari gunung prau, hal ini diungkapkan oleh pi’i ketua The Bull Egg Adventure desa Patakbanteng, yang selama ini sering mengawal wisatawan untuk hiking dan camping di gunung prau.

GambarGambar

Gunung Prau adalah sebuah gunung yang berada di Dataran Tinggi Dieng. Secara administrative Gunung Prau masuk dalam wilayah Kabupaten Kendal, Kabuaten Batang, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Berada di koordinat 7° 11′ 13″ LS,  109° 55′ 22″ BT. Gunung tersebut merupakan salah satu puncak di Dataran Tinggi Dieng selain Gunung Sipandu, Gunung Pangamun-amun, dan Gunung Juranggrawah ini memiliki ketinggian sekitar 2.565 Mdpl.

Selain dapat ditempuh dari jalur Patakbanteng , puncak gunung prau juga dapat ditempuh melalui Dieng sekitar SMP 2 Kejajar yang berlokasi di Dieng. Dari SMP 2 Kejajar kita akan melewati pemakaman umum, perkebunan, jalan setapak yang dikellilingi bunga-bunga dan tanaman endemic dieng yaitu carica, pohon cemara, dan di puncak terdapat menara. Jalan yang terjal dan terus menanjak, terlebih saat menara sudah mulai terlihat. Sepanjang jalan terkadang kita akan melihat jejak sepeda motor sampai ke puncak.

Pi’i The Bull Egg menjelaskan bahwa untuk mencapai gunung prau yang paling enak adalah lewat jalur Patakbanteng, timnya akan mengawal wisatawan sampai tujuan, Prasarana lain juga sudah dipersiapkan, jadi bagi wisatawan/ pendaki  yang akan melakukan pendakian dapat menginap dibase camp desa Patakbanteng.Retribusi masuk yang masuk desa juga cukup murah hanya Rp.3.000 sedangkan untuk parkir dipungut antara Rp. 1.000 – 2.000, apabila wisatawan membutuhkan guide untuk sampai ke puncak ada tarif tersendiri yang sifatnya tidak mengikat dan tarifnya negotiable bahkan sering hanya dipersilahkan berapapun tarifnya kepada wisatawan tidak masalah. waktu yang dibutuhkan untuk sampai puncak juga cukup singkat, hanya sekitar 1,5 jam dari desa Patakbanteng.

Apa yang akan dilihat dari puncak gunung prau?. Kita dapat melihat tujuh puncak gunung dari satu lokasi, yaitu gunung sumbing, gunung sindoro, gunung merapi, gunung merbabu, gunung lawu, gunung slamet, bahkan gunung semeru (kalo ga salah) dan sunrisenya lebih indah dari tempat yang lain.

Tapi masih ada satu tempat lagi yang tak kalah indah, yaitu bukit teletubbies. Tak banyak para pendaki yang tahu tempat ini. Karena kebanyakan pendaki hanya nge camp di puncak dan melewatkan tempat ini. Untuk ke bukit ini dari puncak kita harus jalan terus sekitar 1 jam mengikuti jalan setapak. Di sini kita bisa nge camp dan menikmati bukit padang  rumput yang diselimuti bunga seperti di film teletubbies. Bedanya di sini juga diselimuti kabut tebal yang membuat jarak pandang kita hanya beberapa meter. Dan saat pagi menjelang kita akan di suguhi sunrise dari balik gunung sindoro dan sumbing.

GambarGambar

Usahakan sampai puncak sebelum gelap karena kabut akan semakin tebal yang akan mengurangi jarak pandang. Dan waktu yang paling tepat untuk ke tempat ini adalah saat musim kemarau, karena saat musim hujan udara akan terasa sangat dingin dan hujan di sini juga berbahaya.

Bagi yang tidak membawa perlengkapan pendakian kami juga menyediakan semua camping yang dapat disewa oleh wisatawan. (sumber : berbagai sumber)

GambarGambar

Advertisements

Gunung Gede-Pangrango

Gunung Gede-Pangrango adalah satu-satunya gunung yang paling sering di daki di Indonesia, kurang lebih 50.000 pendaki per tahun, meskipun peraturan dibuat seketat mungkin, bisa jadi karena lokasinya yang berdekatan dengan Jakarta dan Bandung. Untuk mengembalikan habitatnya biasanya tiap bulan Agustus ditutup untuk pendaki juga antara bulan Desember hingga Maret. Untuk mengurangi kerusakan alam maka dibuatlah beberapa jalur pendakian, namun jalur yang populer adalah melalui pintu Cibodas

Mulai 1 April 2002 untuk mengunjungi Taman Nasional Gn.Gede-Gn.Pangrango diberlakukan sistem booking, 3-30 hari sebelum pendakian harus booking dahulu. Jumlah pendaki dibatasi hanya 600 orang per malam, 300 melalui Cibodas, 100 melalui Selabintana, 200 melalui Gunung Putri. Pendaftaran pendaki hanya dilanyani di Wisma Cinta Alam kantor Balai Taman Nasional Gn. Gede-Pangrango pada hari kerja (senen-jumat) pada jam kantor. Pos Cibodas, Gn. Putri dan Salabintana sudah tidak melayani ijin pendakian. Hanya sebagai pos kontrol.
Pemerintah Hindia Belanda menetapkan kawasan hutan seluas 150 km2 di puncak Gunung Gede Pangrango (Kabupaten Cianjur) sebagai suaka alam pada tahun 1889. Pemerintah RI kemudian mengubah status wilayah Gede Pangrango menjadi Taman Nasional pada tahun 1980.

Kawah Gn. Gede

CUACA
Gede Pangrango adalah salah satu tempat di pulau jawa yang terbanyak curah hujannya, rata-rata pertahun mencapai 3.000 hingga 4.200 mm. Musim Hujan dimulai pada bulan Oktober hingga bulan mei dengan curah hujan lebih dari 200 mm setiap bulannya, dan lebih dari 400 mm perbulannya diantara bulan Desember hingga Maret dan taman biasanya ditutup. Taman nasional ini sangat penting untuk menyerap air hujan.
Saat terbaik untuk mengunjungi taman maupun pendakian adalah diantara musim kemarau sekitar juni hingga september, dimana pada saat itu curah hujan turun dibawah 100 mm. Suhu rata-rata berfariasi dari 18ºC di Cibodas hingga kurang dari 10ºC di puncak gunung gede dan pangrango, dengan kelembaban diantara 80% dan 90%. Pada malam hari suhu di puncak gunung bisa mencapai dibawah 5ºC, sehingga bagi setiap pendaki gunung harus membawa jaket tebal. Pendaki juga perlu berhati-hati karena pohon-pohonan mudah tumbang.
Kelembabannya sangat tinggi terutama di hutan pada malam hari, namun pada musim kemarau di puncak gunung berubah turun pada malam hari sekitar 30% hingga siang hari naik mencapai 90%. FAUNA
Tercatat ada 245 jenis burung di taman ini, ketika Junghuhn mendaki Gn.Pangrango pada tahun 1839, merupakan pendaki pertama yang dilakukan oleh orang Eropa, ia menemukan dua badak jawa di dekat puncak gunung (kandang badak) seekor sedang berendam di suatu sungai kecil dan yang lain sedang merumput di pinggir sungai. Sekitar 150 tahun yang lalu juga masih dihuni oleh banteng dan rusa jawa. Pada tahun 1929 masih ada Macan tutul Panthera pardus di Taman Nasional ini, dan tahun 1986 masih tersisa 10, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi.

PINTU MASUK TAMAN
Bagi setiap pengunjung wajib minta ijin di pintu masuk taman yang dapat diperoleh di kantor Cibodas. Pengunjung dapat memasuki taman lewat beberapa pintu diantaranya:

Kebun Raya Cibodas

Pintu Cibodas (Cipanas) merupakan pintu masuk utama dan kantor pusat taman. Berjarak kira-kira 100 km dari Jakarta / 2,5 jam dengan mobil, 89 km dari Bandung / 2 jam naik mobil.

Pintu Gunung Putri (Cianjur) dekat dengan Cibodas dan dapat dijangkau lewat Cipanas atau Pacet. Pintu Selabintana (Sukabumi) berjarak 60 km dari Bogor / 1,5 jam naik mobil, dan 90 km dari Bandung / 2 jam naik mobil. Jalur ini sudah ditutup, karena ada beberapa tempat yang terkena longsor sehingga kita harus merangkak melalui pinggiran jurang dengan tali. Untuk itu diperlukan ijin khusus dan harus dengan pengawalan ranger.

Pintu Situgunung (Sukabumi) berjarak 15 km dari Selabintana ke arah Bogor. Jalur menuju puncak Gunung Gede dan Pangrango memiliki jalur yang sangat jelas, kecuali pintu masuk Situgunung.

Beberapa rute yg dapat dilalui untuk menuju ke Gn.Gede-Pangrango

PERATURAN PENDAKIAN
1. Semua pengunjung wajib membayar tiket masuk taman dan asuransi. Para wisatawan dapat membelinya di ke empat pintu masuk. Ijin khusus diperlukan bagi pendaki gunung atau wisatawan yang dari Cibodas menuju Air terjun Cibeureum melanjutkan ke Air Panas. Wisatawan yang menuju Air terjun Cibeureum lewat Selabintana. Dari perkemahan Bobojong memasuki Taman Nasional lewat Gunung Putri.
2. Bagi para pendaki gunung harus minta ijin ke kantor pusat taman di Cibodas, 3-30 hari sebelum pendakian harus booking dahulu. Jumlah pendaki dibatasi hanya 600 orang per malam.
Jam buka kantor pengurusan ijin:
Senin – Kamis jam 07.30 – 14.30
Jumat jam 07.30 – 11.00
Pendaki harus menyerahkan photo copy KTP atau Surat ijin Orang Tua bagi yang belum memiliki KTP.
3. Penjaga akan memeriksa barang-barang bawaan dan perijinan sebelum memasuki taman.
4. Dilarang membawa binatang ke dalam taman.
5. Dilarang membawa senjata tajam termasuk pisau dan peralatan berburu.
6. Dilarang membawa perlengkapan radio dan bunyi-bunyian ke dalam taman, ijin khusus diperlukan bagi pengguna “walkie-talkie”.
7. Dilarang membuat api unggun yang beresiko tinggi penyebab kebakaran hutan.
8. Dilarang mengganggu, memindahkan, atau merusak barang-barang milik taman. Termasuk mencorat-coret batu atau pohon.
9. Dilarang memetik bunga atau mencabut tanaman.
10. Mendakilah mengikuti jalur utama. Memotong jalur dapat merusak taman dan juga sangat berbahaya.
11. Jangan tinggalkan sampah, sangat sulit dan lama untuk membersihkan sampah dan botol-botol di gunung. Bawa kembali semua sampah ke luar taman.
12. Jangan mecemari atau mengotori sungai, pada saat mandi jangan gunakan sabun atau bahan pencemar lainnya.
13. Melapor kembali ke penjaga taman ketika meninggalkan taman dan menyerahkan surat ijin masuk.
14. Dilarang membawa minumam beralkohol ke dalam taman.

KEBUTUHAN MINIMAL
Bagi para pendaki kebutuhan utama yang harus dipenuhi adalah:
1. Perlengkapan minimal pendakian: pakaian hangat, sleeping bag bila ingin menginap di gunung, jas hujan atau pakaian tahan air, perlengkapan obat-obatan.
2. Bawalah bekal makanan dan minuman yang cukup (non-alkohol).
3. Dilarang mendaki sendirian, sedikitnya harus tiga orang dalam suatu kelompok dan sebisa mungkin dibimbing oleh orang yang sudah hafal betul dengan jalurnya.

Pendakian via Cibodas

PINTU CIBODAS & GUNUNG PUTRI
Jalur terbaik adalah melalui Cibodas, karena kita dapat menikmati keindahan satwa dan beberapa tempat menarik seperti Telaga Biru, air terjun Ciberem dan Air Panas. Terutama sekali kita dapat menemukan aliran air sepanjang jalan hingga pos Kandang Badak suatu pos persimpangan jalan antara Gunung Gede dan Pangrango.
Cibodas atau Gunung Putri dapat ditempuh menggunakan kendaraan umum jurusan Jakarta – Bandung. Turun di Cipanas atau pertigaan Cibodas, disambung dengan mobil angkutan kecil jurusan Cipanas – Cibodas, atau Cipanas – Gunung Putri. Selain dikenakan tiket masuk Taman dan Asuransi, pengunjung diwajibkan meninggalkan photocopy Tanda Pengenal dan menunjukkan Tanda pengenal asli.
Melalui Cibodas puncak Gunung Gede dapat ditempuh selama 5 jam dan puncak Gunung Pangrango dapat ditempuh selama 7 jam. Sedangkan melalui Gunung Putri puncak Gunung Gede dapat ditempuh selama 9 jam.
Dari jalur Cibodas, terdapat beberapa pos peristirahatan yang berupa bangunan beratap yang sangat bermanfaat untuk berteduh dan menghangatkan badan. Sebaiknya tidak mendirikan tenda di dalam pos karena mengganggu para pendaki lainnya yang ingin berteduh.
Sebelum pos Kandang Batu kita akan melewati suatu lereng curam yang sangat berbahaya, yang dialiri air panas, pendaki perlu ekstra hati-hati karena sempit dan licin namun banyak pendaki berhenti untuk menghangatkan badan. Sebaiknya tidak berhenti di sini sangat menggangu pendaki lainnya, selain itu sebaiknya menggunakan sepatu, panasnya air sangat terasa bila kita hanya menggunakan sandal.

Sungai Air Panas (kandang Batu)

Mandi di sungai di Pos Kandang Batu ini yang berair hangat sangat menyegarkan badan, menghilangkan capek dan kantuk. Membantu melancarkan aliran darah yang beku kedinginan. Jangan gunakan sabun, odol, shampoo, karena banyak pendaki mengambil air minum di sungai ini. Membuka tenda di Pos ini sangat mengganggu perjalanan pendaki lainnya.
Meninggalkan Pos Kandang Batu kita akan melewati sungai yang kadang airnya deras sehingga hati-hati dengan sendal yang dipakai. Celana panjang mungkin perlu digulung, namun bila air sungai sedang tenang (tidak ada hujan di puncak) kita bisa melompat di atas batu-batu. Mendekati Kandang Badak, kita akan mendengar suara deru air terjun yang cukup menarik dibawah jalur pendakian. Kita bisa memandang ke bawah menyaksikan air terjun tersebut, atau turun ke bawah untuk mandi bila air tidak terlalu dingin. Bagi pendaki sebaiknya mengisi persediaan airnya di pos Kandang Badak, karena perjalanan berikutnya akan susah memperoleh air. Setelah kandang Badak perjalanan menuju puncak sangat menanjak dan melelahkan disamping itu udara sangat dingin sekali. Disini terdapat persimpangan jalan, untuk menuju puncak Gn.Gede ambil arah ke kiri, dan untuk menuju puncak Gn.Pangrango ambil arah kanan. Persiapan fisik, peralatan dan perbekalan harus diperhitungkan, sebaiknya beristirahat di pos ini dan memperhitungkan baik buruknya cuaca.

Puncak Gn. Pangrango dilihat dari puncak Gn Gede

Menuju puncak Pangrango waktu yang dibutuhkan sekitar 3 jam dengan jarak tempuh lebih kurang 3 km, dengan melintasi kawasan hutan lebat yang sangat terjal. Dari puncak gunung Pangrango pendaki tidak bisa menikmati pemandangan sekitar karena masih banyak pohonan. Sedikit turun ke arah barat terdapat areal terbuka seluas 5 ha yang dipenuhi dengan tanaman bunga edelweis. Tempat ini di sebut Alun Alun Mandalawangi.
Untuk menuju puncak gunung gede pendaki menyusuri punggungan gunung yang terjal. Terdapat sebuah tempat yang disebut Tanjakan Setan, tempat ini sangat terjal dan dilengkapi dengan tali baja untuk berpegangan. Dari atas tanjakan ini pendaki bisa memandang panorama puncak gunung Pangrango yang sangat indah.
Hempasan angin kencang sangat terasa di tempat ini. Pendakian di musim hujan tempat ini terasa sangat dingin karena hembusan angin kencang yang bercampur dengan air. Pendaki yang belum makan biasanya akan mudah sakit ketika tiba di tempat ini. Bahkan bisa terkena kram bila tidak menggunakan pakaian yang cukup tebal. Hingga puncak Gunung Gede angin kencang akan selalu menemani pendaki.
Gambar
Puncak Gn. Gede

Puncak gunung gede memanjang, berbeda dengan puncak gunung pangrango yang runcing sempurna. Pendaki biasanya menikmati pemandangan Kawah Gunung Gede yang sangat luar biasa. Tercium aroma bau belerang yang kadang kala sangat menyengat hidung. Kawah gunung Gede terdiri dari Kawah Ratu dan Kawah Wadon.
Puncak gunung Gede sangat indah namun perlu hati-hati, kita dapat berdiri dilereng yang sangat curam, memandang ke kawah Gede yang mempesona. Dibawah lereng-lereng puncak ditumbuhi bunga-bunga edelweis yang mengundang minat untuk memetiknya, hal ini dilarang dan sangat berbahaya bagi kelestariannya.

Alun-alun SURYA KENCANA

Dari puncak Gede kita bisa kebawah menuju alun-alun SuryaKencana, dengan latar belakang gunung Gumuruh. Terdapat mata air yang jernih dan tempat yang sangat luas untuk mendirikan kemah.

Tempat berkemah

Bila berkemah di alun-alun Surya Kencana di pagi hari sekitar jam 5 pagi pendaki akan dibangunkan oleh para pedagang yang menawarkan nasi uduk dan rokok, (Gunung apa pasar !!??..), Dari sini kita belok ke kiri (timur) bila ingin melewati jalur Gunung Putri, dan untuk melewati jalur Selabintana kita berbelok ke kanan (barat).

JALUR GUNUNG PUTRI
Untuk menuju Gunung Putri dari Jakarta naik bus jurusan Bandung / Cianjur turun di Pasar Cipanas. Dari belakang Pasar yang merangkap terminal ini kita naik mobil angkot ke Gunung Putri. Sebelum melakukan pendakian kita harus booking terlebih dahulu 3-30 hari sebelum hari pendakian di Kantor Pusat Taman Nasional yang terletak di Cibodas.
Di Pos Penjagaan Gunung Putri (1.450 mdpl), pendaki wajib melapor dan menunjukkan surat – surat perijinan dan akan dilakukan pemeriksaan terhadap barang-barang bawaan. Untuk barang yg dilarang seperti pisau, radio, sabun, odol, dll. akan diminta oleh petugas. Pada saat keluar Taman Nasional juga akan dilakukan pemeriksaan kembali serta wajib memperlihatkan sampah yang dibawa turun sisa-sisa pemakaian kita sendiri. Di setiap pintu taman ada tempat untuk membuang sampah.

Pendakian via Gunung putri

Pendakian awal berupa jalan setapak yang melintasi kebun penduduk, yang selanjutnya akan menyeberangi sungai kecil. Setelah melewati sungai jalur mulai menanjak dan kita akan menemukan pipa air minum yang disalurkan untuk keperluan penduduk sekitar.
Satu jam perjalanan dari pipa air pendaki akan sampai di Pos Tanah Merah yang berupa bangunan bekas kantor Taman Nasional yang sudah tidak terpakai di ketinggian 1.850 mdpl. Beberapa dinding kayu sudah hilang dan lantai kayunyapun sudah pada berlobang, namun atapnya masih bagus sehingga dapat digunakan untuk berteduh.
Jalur semakin menanjak dan melintasi akar-akar pepohonan, suasana hutan semakin lebat dan mencekam, setelah berjalan sekitar 1,5 jam akan sampai di Pos Legok Lenca diketinggian 2.150 mdpl.
Jalur berikutnya semakin curam dan licin terutama di musim penghujan, di beberapa tempat medan sempit sehingga pendaki harus ke pinggir bila berjumpa dengan pendaki dari arah berlawanan. Pos berikutnya adalah Buntut Lutung yang berada di ketinggian 2.300 mdpl. Tempat ini agak lega sehingga bisa beristirahat rame-rame setelah melintasi jalur sempit. Jarang sekali ada pendaki yang membuka tenda di pos-pos di sepanjang jalur gunung putri. Selain tempatnya sempit dan tidak ada sumber air, pendaki lebih suka bersusah payah sekuat tenaga untuk sampai di Alun-Alun Surya kencana dan berkemah di sana.
Sebelum sampai di lapangan terbuka Surya Kencana kita masih harus melewati dua pos lagi yakni Pos Lawang Seketeng (2.500 mdpl) dengan medan yang semakin terjal dan semakin menguras tenaga, serta Pos Simpang Maleber (2.625 mdpl).
Pos yang ada berupa bangunan untuk duduk yang dilengkapi dengan atap yang disangga satu tiang seperti payung. Seperti pos-pos yang lainnya tiang penyangga atap sudah roboh semua. Dari Pos Simpang Maleber lintasan sudah landai alun-alun Surya Kencana sudah nampak di depan mata. Untuk menuju Pusat Keramaian Alun-Alun ( Kilometer Nol ) kita harus berjalan ke arah kanan mengikuti aliran sungai kecil yang berada tepat di tengah-tengah lapangan.
Selanjutnya dari Km-0 kita ke kanan mendaki bukit terjal berbatu yang banyak ditumbuhi edelweis untuk menuju puncak Gn. Gede. Sedangkan untuk turun kembali lewat jalur Selabintana kita harus berjalan lurus.

JALUR SELABINTANA
Selabintana (960 mdpl) adalah kawasan wisata yang sangat menarik. Hotel, penginapan, tempat bermain, air terjun dan bumi perkemahan menjadikan kawasan ini ramai dikunjungi siapa saja. Kaum Remaja dari Bandung dan Jakarta sering mengadakan camping di lokasi ini. Kaum Muda Sukabumi menjadikannya sebagai tempat istimewa untuk berpacaran.
Gambar
Air Terjun

Di Selabintana terdapat air terjun Ciberem yang memiliki ketinggian hingga 70 meter. Percikan dan kabut yang tercipta oleh air terjun sudah terasa dari kejauhan ketika pengunjung hendak mendekatinya. Untuk menuju air terjun pengunjung harus melewati jalan berbatu yang panjang dan terjal. Lokasi yang sulit dijangkau ini tidak mengurangi niat orang untuk menuju ke sana. Banyak orang tua yang sengaja ingin memanfaatkan suasana alam dan jalur yang menantang ini untuk proses penyembuhan atau melatih badan.
Jalur pendakian Selabintana kurang diminati oleh para pendaki. Banyak hal yang menjadi alasan yakni: 1.membutuhkan waktu yang lebih lama baik dalam pendakian maupun dalam perjalanan di kendaraan umum, 2.akses kendaraan umum yang susah dan lebih jauh, 3.jalurnya lebih berat, berlumpur dan banyak pacet.
Setelah melakukan booking beberapa hari sebelumnya di Cibodas pendakian baru bisa dilakukan. Di Pos Pemeriksaan dilakukan pemeriksaan barang bawaan dan surat perijinan, kemudian pendaki bisa langsung “ngetrek” atau berkemah terlebih dahulu di Selabintana.

Dari Pos Pemeriksaan kita berjalan menyusuri tepi sungai yang aliran airnya jernih dan sangat dingin memasuki kawasan hutan lebat yang banyak dihuni satwa liar. Lintasan berupa jalan berbatu yang ditata rapi menyusuri punggungan gunung. Monyet-monyet bergelantungan di atas pohon, aneka burung berkicauan di atas dahan.
Setelah berjalan sekitar 1/2 jam kita akan berjumpa dengan menara pengamatan burung. Selanjutnya akan sampai di Pos Citingar (1.000mdpl). Di sepanjang jalur banyak terdapat sampah dedaunan. Di musim penghujan banyak pacet dan di musim kemaraupun masih ada pacet. Medan yang berupa tanah gembur dilapisi guguran dedaunan semakin menanjak dan licin.

Bila ingin beristirahat sebaiknya tidak duduk di atas pohon tumbang atau di tanah berhumus karena banyak pacet, cukup berdiri mengambil nafas panjang. Masih dalam kondisi jalur yang sama kita akan sampai di Pos Citingar Barat (1.175 mdpl). Sekitar 2-3 jam kita berjalan dikawasan hutan yang banyak pacetnya ini. Untuk itu gunakan sepatu gunung jangan pakai sendal, untuk menghindari puluhan pacet nempel di kaki.
Selanjutnya jalur masih berupa tanah gembur dilapisi dedaunan. 1 jam kemudian jalur agak landai sedikit turun dari punggungan gunung menghindari lintasan lama yang longsor (di atas lintasan baru). Di lokasi ini lintasan baru dilapisi dengan batu yang ditata rapi danPacet sudah jarang dijumpai. Kemudian kita akan sampai di Pos Cigeber (1.300 mdpl).
Bila lintasan sebelumnya langit tertutup oleh rimbunya pepohonan (canopy), maka lintasan berikutnya kita mulai bisa melihat langit karena pohon-pohon yang sangat tinggi sudah jarang. Tanah yang diinjak mulai agak keras. Kita akan melewati pinggiran jurang yang banyak ditumbuhi rumput-rumput yang agak tinggi. Selanjutnya tiba di Pos Cileutik (1.500 mdpl).

Sedikit turun di bawah Pos yang sudah roboh ini terdapat sungai yang aliran air nya kecil dan membentuk air terjun mini. Bila tidak terlalu dingin bisa mandi di sungai ini. Di lokasi ini beberapa pendaki bisa beristirahat bersama namun tidak cukup untuk mendirikan 2-3 tenda.
Setelah menyeberangi sungai kecil, medan kembali menanjak dan memasuki kawasan hutan yang lebat. Di beberapa tempat tanah yang diinjak agak lembek. sekitar 2 jam berjalan pendaki akan sampai di Pos yang banyak dikelilingi pohon-pohon yang memiliki bentuk yang aneh, sehingga bisa menimbulkan fantasi yang bermacam-macam.
Selanjutnya kita berjalan sekitar 2 jam maka kita akan sampai di Pos yang hanya bisa digunakan untuk duduk beristirahat sekitar 8 orang. Lintasan berikutnya makin terjal, di beberapa tempat kita bisa berpegangan pada akar-akar dan selanjutnya pendaki akan melewati jalur yang banyak di tumbuhi rumput-rumput yang sangat tinggi.
Sekitar satu jam kita akan sampai di Pos Pertigaan, di tempat ini terdapat persimpangan jalur, bila ke kanan menuju puncak gunung Gumuruh, bila ke kiri menuju alun-alun Surya Kencana. Sekitar lima menit dari lokasi Pos ini kita akan sampai di tempat yang terbuka, ke kanan kita bisa melihat ALun-alun Surya Kencana dan Puncak Gunung Gede.

Danau Biru

Untuk menuju pusat Alun-alun (Kilometer Nol) kita berjalan ke kanan sekitar 15 menit. Di lapangan luas ini kita bisa beristirahat mendirikan tenda. Untuk melanjutkan perjalanan lewat jalur Cibodas kita harus mendaki puncak gunung Gede terlebih dahulu. Sedangkan untuk melewati jalur Gunung Putri kita berjalan lurus mengikuti pinggiran sungai.

Hamparan tanaman Bunga Edelweis yg dilindungi

Untuk menuju puncak Gunung Gede dari Km-0 kita masih harus mendaki batuan terjal yang banyak ditumbuhi Bunga Edelweis, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Bunga Edelweis “BUNGA ABADI”

TRANSPORTASI:

JALUR CIBODAS
Naik bus jur Jakarta-Bandung lewat puncak, turun di pertigaan Cibodas. Mobil angkot ke Kebun Raya Cibodas.
JALUR GUNUNG PUTRI
Naik bus jur Jakarta-Bandung lewat puncak, turun di pasar Cipanas. Mobil Angkot ke gunung Putri.
JALUR SELABINTANA
Dari Sukabumi naik mobil angkot ke Selabintana. Jalan kaki/carter angkot ke Pondok Halimun.

JAKARTA – GUNUNG GEDE – PANGRANGO (perkiraan waktu tempuh) :

1 Jakarta – Cipanas ( arah Bandung ) jarak: 100km waktu tempuh -/+ 2 jam (berkendaraan)
2 Cipanas – Taman Cibodas ( Pintu Masuk ) -/+ 30 mnt (berkendaraan)
3 Cibodas – Danau Biru -/+ 30 mnt (hiking)
4 Danau Biru – Kandang Batu ( Sungai Air Panas ) -/+ 2 jam (hiking)
5 Kandang Batu – Kandang Badak -/+1,5 jam (hiking)
6 Kandang Badak – Puncak Gede ( 2.958 Mdpl ) -/+ 1 jam (hiking)
7 Kandang Badak – Puncak Pangrango ( 3.019 Mdpl ) -/+ 3 jam (hiking)
8 Puncak Gede – Alun Alun Suryakencana -/+ 30 mnt (hiking)

(sumber : http://palapa.nice-topics.com/t26-tips-mendaki-gunung-gede-pangrango)

Gambar

Gunung Slamet

Image

Gunung Slamet (3.428 meter dpl.) adalah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, dan merupakan yang tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau  Jawa setelah gunung Semeru di Malang. Empat kawah yang berada di puncaknya semuanya masih aktif.

Sebagaimana gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Slamet terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia pada Lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa. Retakan pada lempeng membuka jalur lava ke permukaan. Catatan letusan diketahui sejak abad ke-19. Gunung ini aktif dan sering mengalami erupsi skala kecil. Aktivitas terakhir adalah pada bulan Mei 2009 dan sampai Juni masih terus mengeluarkan lava pijar.Sebelumnya ia tercatat meletus pada tahun 1999.

Sejarawan Belanda, J. Noorduyn berteori bahwa nama “Slamet” adalah relatif baru, yaitu setelah masuknya Islam ke Jawa  (kata itu merupakan pinjaman dari bahasa Arab). Ia mengemukakan pendapat bahwa yang disebut sebagai Gunung Agung dalam naskah berbahasa Sunda mengenai petualangan Bujangga Manik adalah Gunung Slamet, berdasarkan pemaparan lokasi yang disebutkan.

Image

Gn. Slamet dapat didaki melalu tiga jalur, lewat jalur sebelah Barat Kaliwadas, lewat jalur sebelah selatan Batu Raden dan lewat jalur sebelah timur Bambangan. Dari ketiga jalur tersebut yang terdekat adalah lewat Bambangan, selain pemandangannya indah juga banyaknya kera liar yang dapat ditemui dalam perjalanan menuju ke puncak slamet.

 

Jalur Pendakian Bambangan

Jalur Bambangan adalah jalur yang sangat populer dan merupakan jalur yang paling sering didaki. Route Bambangan merupakan route terpendek dibandingkan route Batu Raden dan Kali Wadas. Dari kota Purwokerto naik bus ke tujuan Purbalingga dan dilanjutkan dengan bus dengan tujuan Bobot sari turun di Serayu. Perjalanan disambung menggunakan mobil bak angkutan pedesaan menuju desa Bambangan, desa terakhir di kaki gunung Slamet.

Di dusun yang berketinggian 1279 mdpi ini para pendaki dapat memeriksa kembali perlengkapannya dan mengurus segala administrasi pendakian. Selepas dari jalan aspal perkampungan belok ke kanan, Pendaki akan menyeberangi sungai dengan cara melompat dari satu batu ke batu yang lain, bila sedang musim hujan aliran air deras akan menutupi batu-batuan ini. Selanjutnya akan melewati ladang penduduk selama 1 jam menuju pos Payung dengan keadaan medan yang terjal.

Pos Payung merupakan pos pendakian yang menyerupai payung raksasa dan masih berada di tengah-tengah perkebunan penduduk. Selepas pos Payung pendakian dilanjutkan menuju pondok Walang dengan jalur yang sangat licin dan terjal di tengah-tengah lingkungan hutan hujan tropis, selama kurang lebih2 jam. Selepas pondok Walang, medan masih seperti sebelumnya, jalur masih tetap menanjak di tengah panorama hutan yang sangat lebat dan indah, selama kira-kira 2 jam menuju Pondok Cemara.

Sebagaimana namanya, pondok Cemara dikelilingi oleh pohon cemara yang diselimuti oleh lumut. Selepas pondok Cemara pendakian dilanjutkan menuju pos Samaranthu. Selama kira-kira 2 jam dengan jalur yang tetap menanjak dan hutan yang lebat. Samaranthu merupakan pos ke 4. Kira-kira 15 menit dari pos ini terdapat mata air bersih yang berupa sungai kecil. Selepas Samaranthu, medan mulai terbuka dengan vegetasi padang rumput.

Pendaki akan melewati Sanghiang Rangkah yang merupakan semak-semak yang asri dengan Edelweiss di sekelilingnya, dan sesekali mendapati Buah Arbei di tengah-tengah pohon yang menghalangi lintasan pegunungan. Pendaki juga akan melewati Sanghiang Jampang yang sangat indah untuk melihat terbitnya matahari.

Kira-kira 30 menit kemudian pendaki akan tiba di Plawangan. Plawangan (lawang = pintu) merupakan pintu menuju puncak Slamet. Dari tempat ini pendaki akan dapat menikmati panorama alam yang membentang luas di arah timur.

Selepas Plawangan lintasan semakin menarik sekaligus menantang, selain pasir dan bebatuan sedimentasi lahar yang mudah longsor pada sepanjang lintasan, di kanan kiri terdapat jurang dan tidak ada satu pohon pun yang dapat digunakan sebagai pegangan.

Di daerah ini sering terjadi badai gunung, oleh karena itu pendaki disarankan untuk mendaki di pagi hari. Kebanyakan pendaki meninggalkan barang-barang mereka di bawah, untuk memperingan beban. Dari Plawangan sampai di puncak dibutuhkan waktu 30- 60 menit. Dari sini pendaki dapat melihat puncak Slamet yang begitu besar dan hamparan kaldera yang sangat luas dan menakjubkan, yang biasa disebut dengan Segoro Wedi. Apabila kita ingin turun menuju jalur lain, misalnya Guci, pendaki harus melewati kompleks kawah untuk memilih jalur yang diinginkan. Di puncak kita bisa melihat pemandangan yang sangat menakjubkan bahkan kita bisa melihat Laut Jawa.

Jalur Pendakian Kaliwadas

Kaliwadas merupakan sebuah dusun yang berketinggian 1850 mdpi dan masuk wilayah Desa Dawehan, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, atau tepatnya berada pada barat daya lereng Gunung Slamet. Untuk menuju Kaliwadas dapat ditempuh dari kota Bumiayu menuju Pangasinan dengan menggunakan Angkutan Pedesaan jenis Colt yang memakan waktu 2 jam. Setiba di Pasar Pangasinan, perjalanan dilanjutkan menuju Kaliwadas dengan menggunakan Jeep Hardtop atau menggunakan angkutan umum jenis kendaraan terbuka yang beroperasi hingga pukul 18.00 wib.

Pendaki dapat menyiapkan segala perbekalan dan perizinan dari Kaliwadas ini. Kira – kira 300 m selepas jalan desa, pendaki diarahkan menuju jalan setapak. Satu jam kemudian pendaki akan melewati Tuk Suci yang oleh penduduk setempat diartikan sebagai mata air suci. Di Tuk Suci ini terdapat aliran air yang dibendung, yang berfungsi sebagai pengairan desa di bawahnya. Selepas Tuk Suci, medan mulai menanjak menembus lorong-lorong tumbuhan Bambu yang berukuran kecil. Penduduk sekitar menyebutnya Pringgodani. Enam puluh menit kemudian pendaki akan tiba di pondok Growong.

Pondok Growong merupakan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Di sekitar area ini banyak ditemukan pohon besar yang di bawahnya terdapat lubang berukuran cukup besar. Selepas pondok Growong lintasan relatif datar sampai pada sebuah jembatan kecil yang bemama taman Wlingi, yang berada di ketinggian 1953 mdpl. Di daerah ini terdapat persimpangan, lintasan yang lurus dan lebar menuju ke Sumur Penganten. Berjarak 500 m dari area terdapat sumber air, yang juga merupakan sebuah tempat keramat di mana banyak peziarah yang datang untuk meminta berkah.

Jalur ke kiri merupakan lintasan yang menuju ke puncak. Keadaan lintasan semakin menanjak. Di sepanjang lintasan mulai banyak dijumpai pohon tumbang dan pohon penyengat. Lintasan kadang tertutup oleh semak belukar sehingga pendaki harus waspada agar tidak tersesat. Lintasan mulai kembali melebar ketika pendaki melewati persimpangan Igir Manis yang berada di ketinggian 2600 mdpl. Di sekitar area ini akan didapati tetumbuhan Adelweiss dan tetumbuhan Arbei. Setelah itu pendaki akan sampai di Igir Tjowek yang berada di ketinggian 2750 mdpl. Daerah ini masuk kawasan Gunung Malang. Di sini terjadi pertemuan jalaur ini dengan jalur Baturaden. Beberapa meter kemudian barulah pendaki tiba di Plawangan.

Plawangan merupakan sebuah tanah yang cukup datar di daerah terbuka, sekaligus merupakan batas vegetasi. Untuk menuju puncak dibutuhkan waktu kira-kira 2 jam. Pendaki dapat berangkat pagi agar dapat menikmati keadaan puncak dan sekitamya dalam keadaan cuaca cerah. Selepas Plawangan lintasan semakin tajam hingga mencapai sudut pendakian 60. Selanjutnya keadaan lintasan semakfn parah dengan medan bebatuan vulkanik yang mudah longsor. Bau belerang terasa menyengat dari kawah ketika pendaki tiba di puncak bayangan. Setiba di daerah ini, pendaki tinggal melipir pada gigir kawah menuju arah timur.

Setelah melewati Tugu Surono yang berupa tumpukan batu, pendaki akan sampai di puncak tertinggi Gunung Slamet yang ditandai dengan patok triangulasi dan tower. Dulu tempat ini juga digunakan sebagai pemantauan aktivitas gunung api ini. Di puncak tertinggi kedua se-Jawa ini pendaki dapat menyaksikan pemandangan pada arah timur. Tampak beberapa puncak seperti Gunung Sumbing, Sundoro, Merbabu, Merapi, dan puncak Ciremai di arah barat. Semuanya berdiri kokoh sekan-akan menjadi pasak bumi Pulau Jawa.

Jalur Pendakian Batu Raden

Dari kota Purwokerto menuju tempat wisata Batu Raden menempuh jarak 15 km arah utara dan dapat ditempuh selama 30 menit dengan menggunakan Angkutan umum. Batu Raden yang merupakan daerah wisata yang terkenal dengan Pancuran Telu dan Pitu ini berada di ketinggian 760 mdpl. Pancuran tersebut merupakan aliran mata air panas yang mengandung belerang. Jalur ini merupakan jalur tersulit dan jarang dilalui pendaki. Terbentang di sebelah selatan kaki Gunung Slamet pada ketinggian sekitar 640 m di atas permukaan laut. Baturraden terletak hanya 14 km dari Kota Purwokerto yang dihubungkan dengan jalan yang memadai. Di tempat wisata ini Anda dapat menikmati pemandangan indah & udara pegunungan yang segar dengan suhu 18 Celcius 25 Celcius. Sedangkan Gunung Slamet dengan ketinggian 3.428 m, merupakan gunung berapi terbesar dan gunung tertinggi ke-2 di Jawa.

Jika cuacanya bagus, Kota Purwokerto dapat terlihat dari Baturraden, begitu juga dengan Cilacap dan Nusa Kambangan. Ketika kita melihat gunung Slamet, kita dapat melihat lereng gunung Slamet yang ditutupi oleh hutan Heterogen. Taman Rekreasi di Baturraden menyajikan alam pegunungan & lembah sunyi yang dihiasi air terjun serta sumber air panas Belerang dan Pancuran. Di tempat ini juga dapat dinikmati berbagai mainan anak, menara pandang, Taman Botani, Kolam Renang. Tempat pemandian air panas, Kintamani, kolam luncur, sepeda air, kereta gantung, & kebun binatang Widya Mandala.

Selepas pal Taman Wisata Batu Raden, lintasan berbelok ke kanan dan menurun. Dalam perjalanan menuju pos I banyak ditemui cabang lintasan, yang merupakan jalan tikus yang banyak dibuat oleh penduduk setempat. Di tengah perjalanan pendaki akan melewati sebuah sungai. Setelah itu lintasan kembali datar dengan sajian jurang yang menganga pada sisi kanan lintasan. Untuk sampai di pos I dibutuhkan waktu selama 3 jam.

Selepas pos I lintasan mulai menanjak dengan sajian hutan yang rimbun dan asri, selama 2 jam. Untuk sampai di pos III dibutuhkan waktu selama 3 jam dengan lintasan yang tidak begitu menanjak. Vegetasi di pos III masih dalam kungkungan hutan hujan Tropis. Selepas itu pendaki akan melipir pada sebuah punggungan tipis yang berada di ketinggian 1664 mdpl. Daerah tersebut bemama Igir Leiangar. Selepas pos IV, tepatnya di puncak Gunung Malang, akan ditemui persimpangan dengan jalur Kaliwadas. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju ke Plawangan, lalu berbelok ke kanan menuju puncak Slamet. (sumber : berbagai sumber)

pendakian petama

Image

pendakian kedua

Image

Gunung Sumbing

   Image

Siapa yang tidak kenal dengan Gunung Sumbing? Gunung tertinggi ketiga di pulau Jawa setelah Gunung Semeru di Malang dan Gunung Slamet di Purwokerto. Dengan ketinggian puncaknya setinggi 3.371 mdpl tentu sangat menggoda untuk didaki. Posisinya yang berada di antara Wonosobo, Temanggung dan Magelang membuatnya memiliki beberapa basecamp untuk didaki. Melalui Wonosobo, Gunung Sumbing dapat didaki dari basecamp Skydoor yang terletak di Desa Butuh, Kalikajar, Bowongso, Wonosobo. Melalui Temanggung, Gunung Sumbing didaki melalui basecamp di desa Garung, Kledung, Temanggung.

Di kalangan pendaki biasanya dikenal dengan “Pendakian 3S” yaitu Slamet, Sumbing dan Sindoro. Ketiga gunung ini berdekatan sehingga sering dijadikan pendakian maraton oleh para pendaki. Tapi tentu saja, perlu stamina lebih untuk melakukan maraton ini karena ketiga gunung ini termasuk gunung cukup tinggi di Jawa. Selain karena ketinggiannya, mata air yang tidak ada di Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro membuat maraton 3S butuh perencanaan yang matang.

Daerah Kledung umumnya menjadi pilihan utama mendaki, karena dari Kledung pendaki dapat memilih untuk mendaki Gunung Sumbing atau saudaranya Gunung Sindoro. Melalui Kledung, Gunung Sumbing akan terletak di Barat basecamp dan gunung Sindoro terletak di arah Timur sedangkan pendakian akan mengarah ke Timur Laut. Pendakian dari Kledung umumnya akan memakan waktu 8-12 jam hingga puncak Gunung Sumbing.

Perjalanan Menuju Puncak

Basecamp – Pos I – Pos II – Pestan (Pos III) – Pasar Watu – Watu Kotak (Pos IV) – Tanah Putih – Puncak Buntu – Puncak Kawah

Pendakian dari Kledung memiliki 2 jalur yaitu jalur lama dan jalur baru. Jalur lama diambil dengan mengambil jalan lurus terus dari basecamp sedangkan jalur baru mengambil jalur yang sedikit ke utara. Kedua jalur tersebut memiliki 2 pos yang akan bertemu nanti di Pos 3 yang disebut dengan Pestan. Stickpala, fasilitator para pendaki di daerah ini, telah memberikan tanda yang jelas pada setiap pos dan perempatan sehingga memudahkan para pendaki memilih jalan. Peta pendakian juga dapat diperoleh ketika para pendaki melapor untuk melakukan pendakian di basecamp.

Perjalanan menuju Pos I baik itu melalui jalur lama atau jalur baru akan melewati daerah pertanian penduduk. Jalan yang dilalui adalah jalan berbatu, sesekali akan kita temui para petani sekitar dengan menggunakan motornya melewati jalan ini. Tanaman yang umum ditanam disini adalah tembakau pada musim kemarau dan sayur-sayuran pada musim penghujan. Pos I akan ditemukan tidak lama setelah jalan berbatu selesai dan ladang para petani sudah tidak terlihat lagi. Khusus untuk jalur baru sebelum Pos I akan melewati aliran sungai yang terdapat airnya ketika musim penghujan, tetapi air disini tidak deras alirannya sehingga airnya menggenang di musim hujan. Selama menuju Pos I juga akan tampak keindahan Gunung Sindoro selama perjalanan jika cerah.

Perjalanan menuju Pos II baik melalui jalur baru atau lama mulai memasuki hutan. Jalan setapak kecil dan kanan kiri jalan langsung tumbuhan sehingga pemandangan akan penuh dengan tumbuhan dan pepohonan. Khusus untuk Pos II jalur baru memungkinkan untuk ditemukan mata air karena jalur baru dekat dengan aliran sungai, tetapi tetap mendapatkan mata air masih bersifat untung-untungan.

Perjalanan menuju pos III atau Pestan cukup lebar bertanah. Perjalanan ini juga sama dari Pestan menuju Pasar Watu. Perjalanan dari Pos II hingga pertemuan jalur lama dan baru di Pestan hingga Pasar Watu bertanah dengan jalan yang cukup lebar. Umumnya daerah sekitar Pestan mulai berkabut namun jika cerah maka keindahan Gunung Sindoro akan terlihat. Di Pestan pendaki sudah berada di negeri diatas awan dengan ketinggian sekitar 2637 mdpl.

Dari Pasar Watu jalan diteruskan dengan berbelok ke kiri. Umumnya para pendaki yang belum mengetahui jalur akan mengambil jalan lurus terus menaiki bukit, tetapi jalan sebenarnya berbelok kiri sebelum menaiki bukit setelah pasar watu. Jika para pendaki lurus terus menaiki bukit maka jalan akan buntu dengan melihat jurang. Dari Pasar Watu menuju Watu Kotak, jalan mulai berbatu dan lebih vertikal dibandingkan sebelumnya. Sesampainya di Watu Kotak ketinggian telah mencapai 2765 mdpl, tempat ini adalah tempat terakhir untuk membuka tenda. Dari Watu Kotak menuju puncak dapat dicapai selama 1 jam dan dari Watu kotak akan terlihat keindahan lampu kota di malam hari.

Jalan menuju Puncak dari Watu Kotak berbatu dan naik tanpa henti. Untuk mencapai puncak dapat dicapai selama 1 jam. Puncak pertama yang dicapai adalah Puncak Buntu. Dari Puncak Buntu sunrise sudah dapat dinikmati. Pendaki juga dapat melihat dari sudut yang berbeda melalui Puncak Kawah yang terletak tidak jauh dari Puncak Buntu. Dari Puncak Buntu dan Puncak Kawah para pendaki sudah dapat menikmati sunrise dan juga kawah Gunung Sumbing yang terletak di bawah. Kawah Gunung Sumbing masih mengeluarkan asap belerang, namun dari kedua puncak ini pendaki aman dari asap tersebut.

Secara legal, demi keamanan, puncak Gunung Sumbing adalah Puncak Buntu dan Puncak Kawah. Namun tanah tertinggi Gunung Sumbing terletak di Puncak Tertinggi atau juga disebut Puncak Rajawali. Puncak Tertinggi atau Puncak Rajawali terletak bukit kedua sebelah utara dari Puncak Kawah. Jalan menuju kesana dengan melewati bukit pertama baru menaiki bukit Puncak Rajawali. Jalan menuju Puncak Rajawali membutuhkan kemampuan climbing dan keberanian. Hal ini disebabkan jalan berbatu, licin, juga sempit berjurang sehingga kurang aman dan membutuhkan konsentrasi yang terus terjaga. Pendaki juga dapat turun ke kawah setelah melewati bukit pertama dari puncak kawah. (sumber : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/12/15/gunung-sumbing-511303.html)

Image